Kaget juga membaca berita mengenai Ketua BEM UI Zaadit Taqwa memberikan kartu kuning untuk Presiden kita Joko Widodo.

Ketua BEM UI Zaadit Taqwa (Sumber: detik.com)

Banyak pertanyaan yang muncul di pikiran saya, kok bisa seorang mahasiswa memberikan penilaian negatif terhadap seorang Presiden yang nota bene sudah melakukan banyak hal dalam kurun waktu kerja yang tergolong masih sangat singkat.

Pun tidak terpikir bahwa sebenarnya sebagai Ketua BEM UI, dia punya kesempatan untuk berdiskusi dan bertatap muka langsung dengan Presiden setelah acara Dies Natalis UI tersebut. Namun Dia melewatkannya. Sebagai seorang ketua organisasi kemahasiswaan, seharusnya dia harus mengedepankan diplomasi untuk membahas masalah yang dia anggap perlu diselesaikan bangsa ini. Kecuali jika yang ada di pikirannya hanyalah melakukan demo sebagai sikap protes terhadap  kebijakan yang diambil oleh seorang Presiden.

Inikah yang disebut sebagai ‘Menara Gading?’ Hanya melihat dan memberi penilaian, tanpa aksi nyata? Dimana konsep Pengabdian Pada Masyarakat yang dimaksud dalam Tridharma Perguruan Tinggi itu? Atau kegiatan sivitas akademika yang memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memajukan kesejahteraan masyarakat dan mencerdaskan kehidupan bangsa?




Saya akan sangat setuju jika seandainya dia sudah melakukan suatu upaya untuk memperbaiki keadaan. Paling tidak sudah berusaha melakukan sesuatu untuk mengatasi masalah yang dia anggap tidak mampu diselesaikan oleh Presiden. Termasuk masalah yang dia kritisi yaitu masalah “kelaparan” alias gizi buruk yang ada di Kabupaten Asmat.

Kasus gizi buruk di Kabupaten Asmat (Sumber: BBC Indonesia)

Yang saya baca di media adalah berita yang mengatakan BEM UI sebenarnya sudah berencana untuk datang ke Papua. Namun berita itu muncul setelah ada keinginan Presiden Joko Widodo untuk memberangkatkan BEM UI, Ketua dan Anggotanya ke Papua. Belakangan memang kita dengar bahwa BEM UI sedang melakukan penggalangan dana untuk tujuan tersebut.

Namun sekali lagi, ternyata fasilitas pemberangkatan yang disediakan oleh Presiden Joko Widodo tidak mendapat tanggapan setimpal dari Ketua BEM UI. Zaadit Taqwa tidak ingin membebani keuangan negara. Setidaknya begitu kira-kira yang saya baca di media.

Padahal seharusnya perguruan tinggi perlu bersinergi dengan pemerintah untuk mengatasi masalah-masalah kritis yang dihadapi bangsa ini. Sebagai organisasi tertinggi yang dimiliki mahasiswa di tingkat universitas BEM (UI), seharusnya sudah mengumpulkan data, mengorganisir segala sesuatu untuk tujuan tersebut dan mengajukan suatu program penyelesaian masalah kepada Pemerintah. Jika tidak mendapat tanggapan positif barulah tindakan seperti yang dilakukan oleh saudara Zaadit Taqwa layak dilakukan.

Dengan menolak tawaran Jokowi untuk diberangkatkan ke Papua, terlihat nyata bahwa tindakan kritis yang dilakukan Ketua BEM UI tidak sejalan dengan apa yang disampaikannya ketika memberikan kartu kuning kepada Presiden Jokowi. Bukankah jika kita mengkritisi suatu masalah berarti kita sudah siap dengan sebuah solusi? Padahal tawaran Jokowi (tawaran seorang Presiden) sangat berharga untuk diterima. Itu artinya kita punya nilai lebih dari yang lain. Jika orang lain berlomba untuk membantu Presiden (ingat: semua politisi ingin menjadi pembantu presiden (menteri)), lalu kenapa Zaadit Taqwa justru menghindar?

Sebagai ketua organisasi, pernahkah dia mencoba untuk mengkoordinir atau setidaknya mencoba melakukan pendekatan terhadap mahasiswa UI yang akan dan baru lulus untuk mau ditempatkan di pedalaman Papua, atau pelosok di Kalimantan misalnya?




Jika kita mau jujur terhadap diri kita sendiri, berapa banyak sih lulusan Universitas Indonesia yang mau ditempatkan di tempat terpencil? Bahkan mungkin seorang lulusan UI akan bekerja di bidang yang sama sekali berbeda dengan latar belakang keilmuan yang didapat di bangku kuliah agar tidak bekerja di pedalaman. Bukan rahasia umum bahwa misalnya lulusan IPB memilih untuk bekerja di dunia perbankan di Jakarta atau kota besar lainnya dari pada bekerja sebagai penyuluh pertanian di pedesaan. Idem dito dengan lulusan UI.

Saya lebih terharu dengan berita yang dirilis detik.com mengenai dokter Tigor Silaban, yang walaupun sudah bekerja di pedalaman Papua sejak tahun 1979  justru berita tentang kepahlawanannya untuk masyarakat Wamena baru terdengar ketika detik.com memuat tulisan mengenai pengabdiannya. Padahal yang dia lakukan sudah melebihi kapasitasnya sebagai seorang dokter umum, dengan melakukan operasi dan pembedahan bagi masyarakat Wamena.

Tapi bagaimanapun saya tetap ingin mengucapkan rasa salut saya kepada Ketua BEM UI Zaadit Taqwa , yang mana karena kartu kuning yang dia berikan kepada Joko Widodo masalah di Asmat ini menjadi sorotan nasional yang pada akhirnya akan membuatnya menjadi prioritas untuk diselesaikan.

 

Kartu Kuning Buat Jokowi, Juga Buat Kita.

Kartu Kuning untuk Jokowi (Sumber foto: ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)

Kartu kuning buat Jokowi tak pelak bukan hanya ditujukan kepada Presiden Joko Widodo, juga terhadap kita semua. Terutama buat para lulusan Universitas Negeri di Tanah Air yang sebagian sudah dibiayai oleh Negara dengan memberikan biaya pendidikan murah, disaat biaya pendidikan di perguruan tinggi yang sebenarnya begitu mahal. Kartu Kuning itu lebih tepatnya ditujukan kepada dokter-dokter lulusan Universitas Indonesia yang sebagian besar bekerja di Jakarta atau kota-kota besar lainnya. Tak pelak kartu kuning tersebut adalah untuk Anda yang membaca tulisan ini yang mungkin adalah lulusan Universitas Negeri ternama lainnya di Tanah Air.

 

Tujuh Presiden Sejak Indonesia Merdeka

 

Presiden Republik Indonesia Pertama s/d Ketujuh (Sumber: Wikipedia)

Indonesia merdeka sejak tahun 1945.

Sudah berapa banyak Presiden yang kita miliki? Apakah hanya Joko Widodo? Apakah hanya Jokowi yang harus mempertanggungjawabkan keadaan Papua sekarang ini?

Kita semua tahu bahwa kita pernah memiliki Presiden yang bernama Soekarno, Soeharto, Bacharuddin Jusuf Habibie, Abdulrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo.

Zaadit bertanya dengan kartu kuningnya mengenai keadaan kesehatan di Papua kepada Presiden ketujuh, Jokowi. Tapi kita tidak pernah bertanya ke 6 Presiden sebelum era Jokowi.

Pernahkah kita bertanya mengenai kontribusi mereka terhadap Papua? Pembangunan Papua? Atau mengenai pembagian keuntungan Freeport menambang emas di tanah Papua?

Lalu apakah masalah papua selama ini hanya penyakit dan gizi buruk?

Tidak.

Sampai hari ini, setelah hampir 73 tahun Indonesia merdeka, sepertinya rakyat Papua belum menikmati hasil tambang emas dari perut bumi mereka. Padahal jika hal itu terlaksana, Papua bisa saja lebih maju dari pada Pulau Sumatera atau Pulau Jawa sekalipun.

Tanah Papua memiliki banyak hal untuk diselesaikan, bahkan sejak awal kemerdekaan. Bentuk Geografis Papua yang begitu sulit untuk ditaklukkan membuat Papua sulit untuk dikembangkan. Untuk membangun jalan sebagai sarana transportasi darat jelas akan memakan biaya yang sangat tinggi. Dengan medan yang begitu berat akhirnya Papua hanya bisa mengandalkan transportasi udara yang juga sangat mahal.

Keadaan ini membuat Ketua BEM UI Zaadit Taqwa mengkartu-kuningkan Presiden Joko Widodo, padahal sepanjang pengetahuan saya justru di era pemerintahan Joko Widodo Papua lebih dibuka dengan membuat jalan-jalan baru, juga merintis angkutan laut melalui program tol laut. Kemudian bolehkah saya bertanya apa yang dilakukan Presiden kita sebelum Joko Widodo?

Lalu apa makna yang tersirat ketika seorang Zaadit Taqwa memberikan kartu kuning kepada Presiden Joko Widodo? Menurut saya, kartu kuning itu adalah untuk kita semua!




Penutup
Pertanyaannya. Dalam masalah yang dihadapai Papua, mulai dari pembagian keuntungan Freeport, atau dalam hal masalah keadilan, dimana Ketua Organisasi kemahasiswaan berbagai Universitas Top di Tanah Air sebelum era Ketua BEM UI Zaadit Taqwa? Dimana juga para Anggota DPR yang justru harusnya melakukan fungsinya sebagai pembuat Undang-undang untuk memajukan Papua?

Kita tahu! Tapi kita tidak pernah bertanya seperti yang dilakukan oleh saudara Zaadit Taqwa.

baca versi bahasa inggrisnya disini

read the english version here )

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *